Kamis, 11 April 2013

Biodegradasi Senyawa Organik


Perkembangan industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia pada era pembangunan ini sangat pesat. Selama proses pengolahan buah kelapa sawit menjadi minyak sawit diperoleh limbah baik berupa limbah cair maupun limbah padat. Limbah padat berupa jajangan, serat-serat dan cangkang dapat diolah menjadi bahan yang berguna. Janjangan dibakar dan abu hasil pembakaran dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Sedangkan serat-serat dan sebagian kulit dibakar dan panas yang dihasilkan digunakan sebagai sumber energi. Cangkang yang tersisa dapat digunakan sebagai bahan baku industri yang aktif maupun industri hard board. Limbah cair industri pengolahan kelapa sawit dapat mencemari lingkungan bila langsung dibuang ke badan air tanpa pengolahan lebih dahulu.
Limbah ini mengandung senyawa organik dan anorganik. Limbah yang mengandung senyawa organik dapat dirombak oleh mikroba dan dapat dikendalikan secara biologis.
Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan proses aerob dan anaerob.
Pengolahan Limbah cair dengan proses Anaerobik
Proses pengolahan anaerobik adalah proses pengolahan senyawa – senyawa organik yang terkandung dalam limbah menjadi gas metana dan karbon dioksida tanapa memerlukan oksigen.
Mekanisme Rooksi Pengolahan Limbah Cair dengan Proses Anaerobik
Penguraian senyawa organik seperti karbohidrat, lemak dan protein yang terdapat dalam limbah cair dengan proses anaerobik akan menghasilkan biogas yang mengandung metana (50-70%), CO2 (25-45%) dan sejumlah kecil nitrogen, hidrogen dan hidrogen sulfida.
Reaksi sederhana penguraian senyawa organik secara aerob : 
                          
Sebenarnya penguraian bahan organik dengan proses anaerobik mempunyai reaksi yang begitu kompleks dan mungkin terdiri dari ratusan reaksi yang masing- masing mempunyai mikroorganisme dan enzim aktif yang berbeda.
Penguraian dengan proses anaerobik secara umum dapat disederhanakan menjadi 2 tahap:
- Tahap pembentukan asam
- Tahap pembentukan metana
Tahap 1 (Hidrolisa)
Dari tahap pembentukan asam adalah hidrolisa senyawa organik baik yang terlarut maupun yang tersuspensi dari berat molekul besar (polimer) menjadi senyawa organik sederhana (monomer) yang dilakukan oleh enzim-enzim ekstraseluler. Beberapa senyawa organik dan enzim pengurainya yaitu :
enzim
substrat
produk
Esterase: Lipase
Gliserida (fat)
Gliserol + Asam lemak
Phosphatase:Lecithinase
Lecitin
Choline + H3PO4 + fat
Carohydrase : Fructosidase
Sucrosa
Frukosa + Glukosa

Tahap 2 (Acidogenesis)
Pengubahan senyawa sederhana menjadi asam organik yang mudah menguap
seperti asam asetat, asam butirat, asam propionat dan lain-lain. Dengan terbentuknya asam organik maka pH akan terus menurun namun pada waktu yang bersamaan akan terbentuk buffer yang akan menetralisisr pH.
Tahap 3 ( Acetogenesis)
Pembentukan asam dari senyawa-senyawa organik sederhana (monmer) dilakukan oleh bakteri-bakteri penghasil asam yang terdiri dari sub divisi acids/farming bacteria dan acetogenic bacteria. Asam propionat dan butirat diuraikan oleh acetogenic bacteria menjadi asam asetat.
Tahap 4 (Metanogenesis)
Merupakan tahap dominasi perkembangan sel mikroorganisme dengan spesies tertentu yang menghasilkan metana.Pembentukan metana dilakukan oleh bakteri penghasil metana yang terdiri dari sub divisi acetocalstic methane bacteria yang menguraikan asam asetat menjadi metana dan karbon dioksida.Karbon dioksida dan hidrogen yang terbentuk dari reaksi penguraian di atas, disintesa oleh bakteri pembentuk metana menjadi metana dan air. Bakteri penghasil metana sangat sensitif terhadap perubahan pH. Rentang pH optimum untuk jenis bakteri penghasil metana antara 6,4 - 7,4.
Proses pembentukan asam dan gas metana dari suatu senyawa organik sederhana melibatkan banyak reaksi percabangan. Mosey (1983) yang menggunakan glukosa sebagai sampel untuk menjelaskan bagaimana peranan keempat kelompok bekteri tersebut menguraikan senyawa ini menjadi gas metana dan karbon tlioksida sebagai berikut :
 




7 komentar:

  1. Dari artikel diatas dijelaskan bahwa bakteri penghasil metana sangat sensitif terhadap perubahan pH. Rentang pH optimum untuk jenis bakteri penghasil metana antara 6,4 - 7,4. lalu bisakah dengan pH yang rendah bakteri tersebut melakukan pembentukan metana?

    BalasHapus
  2. saya akan mencoba menjawab permaslah anda,yang saya ketahui,,
    Bakteri yang tidak menghasilkan metana tidak begitu sensitif terhadap perubahan pH, dan dapat bekerja pada pH antara 5 hingga 8,5.
    Karena proses anaerobik terdiri dari dua tahap yaitu tahap pambentukan asam dan tahap pembentukan metana, maka pengaturan pH awal proses sangat penting. Tahap pembentukan asam akan menurunkan pH awal. Jika penurunan ini cukup besar akan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana.
    semoga membantu.

    BalasHapus
  3. saya akan mencoba menjawab pertanyaan febby
    anda mengatakan bahwa pH optimum untuk bakteri metana antara 6,4-7,4
    jadi,menurut saya jika dibawah pH tersebut bakteri tersebut dapat tetap menghasilkan senyawa metana,tetapi tidak optimum,dalam hal ini bisa saja metana yang di hasilkan hanya sedikit jumlahnya
    semoga membantu :)

    BalasHapus
  4. Insya allah bisa, tapi memang akan membentuk metana dengan jumlah yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan bakteri pada pH 6,4-7,4. kemudian jika memang pH dengan drastis diturunkan (asam) maka dapat merusak (membunuh) mikroorganisme tersebut.

    "Jika penurunan ini cukup besar akan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana. Untuk meningkatkat pH dapat dilakukan dengan penambahan kapur."

    Di dalam proses fermentasi anaerob untuk membentuk metana, terjadi suatu kehidupan simbiosis. Semakin banyak simbiosis, semakin baik daya dukungnya terhadap lingkungan kehidupan dari bakteri metana.
    ^_^

    BalasHapus
  5. Dari literatur yg saya baca,
    Berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar bakteri-bakteri penghasil biogas dapat menghasilkan gas secara optimum
    1. Lingkungan abiotis
    2. Temperatur
    3. Derajat keasaman (pH)
    Bakteri asidogen dan metanogen memerlukan lingkungan dengan derajat keasaman optimum yang sedikit berbeda untuk berkembangbiak. pH yang rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri asidogenesis, sedangkan pH di bawah 6,4 dapat meracuni bakteri metanogenesis. Rentang pH yang sesuai bagi perkembangbiakan bakteri metanogenesis 6,6-7 sedangkan rentang pH bagi bakteri pada umumnya adalah 6,4-7,2. Derajat keasaman harus selalu dijaga dalam wilayah perkembangbiakan optimum bagi bakteri agar produksi biogas stabil.
    Mikroba penghasil metana dapat ditemukan pada daerah yang memiliki cuaca ekstrim seperti pada lapisan es Greenland serta pada padang pasir yang panas dan kering.

    jadi,menurut saya,bahwa pada PH yg lebih rendah dari 6,4 maka bakteri tersebut kemungkinan akan meghasilkan metana.namun,hasil yg dicapai tidak maksimum.karena derajat keasaman Ph ini merupakan salah satu faktor dari tercapainya biogas (metana) secara maksimum.
    semoga membantu :)

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  7. Terima kasih kak atas informasinya
    Saya jadi tambah ilmu berkat blog ini

    BalasHapus